Merancang Soal Pilihan Ganda dengan Vignette

Pendahuluan
Format soal pilihan ganda atau multiple choice question (MCQ) merupakan format soal paling obyektif yang dapat digunakan dalam evaluasi pembelajaran. Soal MCQ dapat mengukur secara telak tanpa mempertimbangkan subyektivitas penguji terhadap peserta ujian. Pemeriksaan jawaban MCQ mudah dikomputerisasi dan dapat digunakan untuk jumlah peserta ujian sangat besar. Format ini selalu menjadi pilihan pertama pada hampir seluruh instansi pendidikan, terutama untuk menguji mahasiswa dalam jumlah besar. Soal dengan format MCQ mudah untuk dilakukan uji reliabilitas pertanyaan dan relatif mudah untuk memvalidasi pertanyaan.

Soal MCQ yang dipersiapkan kurang baik tidak dapat mengukur kemampuan berpikir mahasiswa yang sebenarnya. Mungkin mahasiswa menguasai suatu teori, namun tidak mengerti aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Soal MCQ yang dipersiapkan dengan baik dapat mengukur tingkat kemampuan berpikir yang kompleks, misalnya menganalisis fenomena, aplikasi teori, menginterpretasikan informasi, menentukan jenis terapi, menghitung dosis obat, atau menyimpulkan permasalahan.

Variasi Soal MCQ
Secara umum format soal MCQ dikelompokkan menjadi satu jawaban terbaik atau one best answer (OBA) dan pertanyaan benar/salah atau true/false question (T/F question). OBA terdiri dari tipe A (konvensional), tipe B (menjodohkan/matching), dan tipe R (menjodohkan yang lebih rumit/extended matching). T/F question terdiri dari tipe K (benar/salah ganda) dan tipe X (benar/salah sederhana). Variasi yang menjadi pilihan untuk ujian formatif di fakultas kedokteran biasanya T/F question untuk menguji konsep yang telah diketahui peserta didik, sedangkan untuk ujian sumatif biasanya menggunakan OBA, namun tidak harus selalu demikian karena tidak ada aturan baku yang mengaturnya.

Soal tipe A juga memiliki beberapa variasi format. Mulai dari soal yang bersifat recall/memorizing, misalnya pertanyaan sederhana atau pernyataan tidak lengkap, lalu diberikan pilihan jawaban, sehingga peserta ujian hanya diminta mengingat materi tanpa memikirkan aplikasi dari materi tersebut dalam konteks tertentu. Ada juga soal yang bersifat reasoning/critical thinking, misalnya soal yang diberikan skenario/vignette, sehingga peserta ujian mesti berpikir dulu mengenai konteks skenario sebelum menentukan jawaban.

Soal tipe A yang menggunakan vignette merupakan variasi pilihan yang digunakan dalam Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) dan ujian lisensi dokter di negara lain. Variasi ini diyakini sebagai variasi terbaik untuk mengukur kemampuan berpikir peserta ujian karena diberikan konteks dan paling mudah untuk dievaluasi kembali. Pada tulisan ini, IlmuPendidikanKedokteran.com akan membahas merancang soal MCQ tipe A dengan vignette.

Struktur Butir Soal MCQ tipe A dengan Vignette
Setiap butir soal MCQ terdiri dari tiga komponen yaitu stem (skenario), lead-in (pertanyaan), dan option (pilihan jawaban). Berikut beberapa panduan dasar yang digunakan dalam penyusunan soal MCQ.

  • Setiap butir berfokus pada konsep yang penting, terutama masalah yang umum atau menjadi bencana. Hindari soal mengenai materi yang kurang penting atau tidak aplikatif, menjebak, atau skenario terlalu rumit.
  • Setiap butir soal mengukur kemampuan berpikir yang kompleks, bukan recall. Hindari soal yang jawabannya dapat ditemukan secara langsung pada buku.
  • Skenario dan pertanyaan harus jelas, sehingga bila pilihan jawaban ditutup, peserta tetap dapat menentukan jawabannya.
  • Pertanyaan tidak boleh dalam bentuk jebakan, misalnya “Manakah pernyataan berikut yang benar?” atau “Pernyataan berikut benar, KECUALI.”

Konstruksi Pertanyaan MCQ
1. Tentukan sasaran pembelajaran
Evaluasi yang paling baik adalah evaluasi yang memiliki benang merah dengan sasaran pembelajaran. Pada sasaran pembelajaran yang baik tergambar kemampuan spesifik yang diharapkan, kriteria penguasaan kemampuan, dan kondisi saat penilaian kemampuan, sehingga bila dibuat pemetaan kurikulum akan tampak kesinambungan antar apa yang dipelajari, metode pengajaran, dan metode evaluasinya. Namun biasanya kita sulit menjumpai sasaran pembelajaran yang lengkap dalam sebuah kurikulum fakultas.

Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan merujuk pada lampiran-lampiran di Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Solusi tersebut tidak sepenuhnya benar karena sasaran pembelajaran diturunkan dari SKDI, bukan dari lampirannya. Lampiran SKDI merupakan contoh aplikasi klinis dan tidak menyebutkan secara eksplisit ilmu dasar biomedik yang harus dikuasai mahasiswa.

Bila menggunakan lampiran SKDI, kita dapat memilih daftar penyakit sesuai dengan tingkat kompetensi yang diharapkan. Tabel berikut merupakan rangkuman cakupan tiap tingkat kemampuan dari SKDI.

(Klik gambar untuk memperbesar)

Cakupan Kompetensi

Kita dapat membuat soal sesuai dengan tingkat kemampuan dan cakupan kompetensi. Tidak ada ketentuan yang menyebutkan soal harus diambil dari daftar penyakit dengan tingkat kemampuan tertentu, misalnya 3 dan 4. Soal mengenai tata laksana hingga tuntas dapat diambil dari penyakit dengan tingkat kemampuan 4A, sedangkan soal diagnosis dapat berasal dari kemampuan 1 hingga 4.

2. Buat skenario
Skenario harus dalam konteks kasus klinis, baik untuk mengukur pengetahuan klinis, maupun untuk mengukur pengetahuan ilmu dasar. Skenario dapat berupa narasi kondisi pasien, hasil laboratorium, grafik, diagram, ataupun tabel, bergantung pada kemampuan berpikir yang akan ditanyakan. Tidak ada batasan panjang skenario, namun skenario dibuat seefektif dan seefisien mungkin, serta menghindari penambahan informasi yang mendistorsi pikiran.

Contoh soal ilmu dasar:

Bagian otak mana yang mengalami kerusakan pada gangguan memori jangka pendek? (E)
A. Amygdala
B. Hippocampus
C. Locus caeruleus
D. Caudate nucleus
E. Mammillary bodies

Soal tersebut dapat diberikan skenario menjadi:

Seorang laki-laki berusia 50 tahun dengan riwayat alkoholisme mengalami kesulitan mengingat jangka pendek. Pasien tidak mampu mengingat tanggal dan tidak mampu mengingat apa yang dimakannya tadi pagi. Dia mengira dokter yang memeriksanya merupakan teman yang sudah lama tidak bertemu dan berbicara dengan dokter seolah sudah saling mengenal. Pasien tidak mengalami gangguan ingatan jangka panjang.

Bagian otak mana yang mengalami kerusakan? (E)

A. Amygdala
B. Hippocampus
C. Locus caeruleus
D. Caudate nucleus
E. Mammillary bodies

Narasi skenario yang lengkap berisi anamnesis (identitas, usia, tempat pelayanan, keluhan utama, keluhan penyerta, dan pekerjaan), pemeriksaan fisik (tanda vital, pemeriksaan khusus), dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Isi narasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan untuk membuat suatu kesimpulan atau keputusan.

3. Buat pertanyaan
Pertanyaan disesuaikan dengan cakupan kompetensi. Pertanyaan mengenai penyakit dengan cakupan kompetensi diagnosis dapat berupa pertanyaan mengenai ilmu dasar, mekanisme terjadinya penyakit, interpretasi pemeriksaan fisik dan penunjang. Pertanyaan mengenai penyakit dengan cakupan kompetensi tata laksana dapat berupa pertanyaan mengenai upaya promotif dan preventif, dasar pemilihan terapi (diet, farmakoterapi, bedah, atau rehabilitasi), serta indikasi, manfaat, tujuan, dan efek yang tidak diharapkan dari terapi.

4. Buat pilihan jawaban
Seluruh pilihan jawaban harus homogen baik yang benar maupun yang salah (distraktor). Panjang pilihan distraktor relatif sama jawaban yang benar dan diurutkan dari pilihan yang paling panjang atau paling pendek atau alfabetik atau numerik. Seluruh pilihan jawaban harus homogen baik yang benar maupun yang salah (distraktor). Panjang pilihan distraktor relatif sama jawaban yang benar dan diurutkan dari pilihan yang paling panjang atau paling pendek atau alfabetik atau numerik.

Tidak ada aturan baku mengenai jumlah pilihan jawaban minimal atau maksimal. Biasanya secara normatif pilihan jawaban ditetapkan sebanyak lima (5) buah pilihan karena ujian yang dilaksanakan masih berbasis kertas. Pada ujian berbasis komputer pilihan jawaban dapat diperbanyak dengan tetap mempertimbangan waktu.

Contoh soal mengenai pengetahuan klinis:

Skenario
Seorang laki-laki berusia 28 tahun dibawa oleh keluarganya ke poli umum karena mengeluhkan mudah lelah dan sesak napas sejak 4 bulan ini. Pasien diketahui mempunyai riwayat demam rematik saat masih kecil. Pada pemeriksaan fisik didapati early diastolic sound yang diikuti murmur diastolik decrescendo pada 4 cm lateral linea parasternalis sinistra di ICR IV. Murmur ini paling jelas terdengar bila posisi pasien lateral decubitus kiri.

Pertanyaan
Apakah diagnosis kelainan katup jantung yang paling mungkin dari kasus di atas?

Pilihan Jawaban
A. Aortic regurgitation
B. Aortic stenosis
C. Mitral regurgitation
D. Mitral stenosis
E. Pulmonic regurgitation
F. Pulmonic stenosis
G. Tricuspid regurgitation
H. Tricuspid stenosis

Referensi

  • National Board of Medical Examiners. Constructing Written Test Questions For the Basic and Clinical Sciences. 3 rd ed. Philadelphia: National Board of Medical Examiners; 2002.
  • Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. 2nd ed. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia; 2012.
Tagged with:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *