Pemilihan Kasus dan Penentuan Kompetensi yang Diuji

Artikel berikut merupakan lanjutan dari artikel merancang soal MCQ. Dalam penyusunan butir soal MCQ, baik untuk evaluasi sumatif maupun formatif, selalu menggunakan skenario (vignette) sebagai konteks klinis. Konteks tersebut bertujuan agar mahasiswa selalu dihadapkan dengan contoh kasus nyata di lapangan. Oleh sebab itu dalam pembuatan butir soal juga memperhatikan kasus yang dipilih untuk dijadikan soal ujian.

Pada bagian lampiran dari SKDI terdapat daftar masalah, daftar penyakit, dan daftar keterampilan klinis. Untuk pembuatan butir soal MCQ, kita hanya membutuhkan daftar masalah dan daftar penyakit. Daftar keterampilan klinis digunakan dalam pembuatan soal dengan tingkat kemampuan Shows dan Does menurut Piramida Miller.

Daftar masalah dan daftar penyakit dalam SKDI bersifat sebagai panduan minimal dalam menetapkan kompetensi lulusan FK. Setiap FK memiliki kewenangan bila ingin meningkatkan kompetensi lulusannya dengan menaikkan level pada daftar penyakit bila dirasa perlu. Dampak dari perubahan tersebut adalah naiknya tingkat kesulitan soal. Sebagai acuan kita perlu menyepakati kembali cakupan kompetensi pada masing-masing tingkat kemampuan seperti tertuang pada SKDI. Definisi tersebut dapat digambarkan seperti pada tabel berikut:

Tabel Tingkat Kemampuan, Periode Pencapaian, dan Cakupan Kompetensi



Berdasarkan tabel tersebut definisi cakupan kompetensi juga menggambarkan tingkat kesulitan soal sebagai konsekuensi dari tingkat kesulitan suatu penyakit. Agar dapat menentukan diagnosis penyakit pada soal, mahasiswa perlu mengetahui penyebab dan patofisiologi penyakitnya. Agar dapat menentukan tata laksana, maka mahasiswa harus terlebih dahulu menentukan diagnosis penyakit tersebut.

Untuk kasus dengan level 4A, soal MCQ yang ditanyakan sebaiknya sudah mengenai tata laksana. Bila yang ditanyakan hanya diagnosis, apalagi recall mengenai penyebab atau patofisiologi penyakit, maka tingkat kesulitan akan berkurang, sehingga soal tersebut tidak dapat menggambarkan kemampuan mahasiswa sebenarnya. Sebagai contoh kasus lipoma dengan level kompetensi tingkat 4A, sebaiknya soal MCQ mengenai lipoma menanyakan tata laksana, bukan diagnosis, apalagi hanya menanyakan penyebab.

Sebaliknya, untuk kasus tingkat 1, soal MCQ yang ditanyakan mengenai diagnosis, penyebab ataupun patofisiologi penyakit. Bila yang ditanyakan tata laksana, maka tingkat kesulitan akan meningkat, sehingga soal tersebut menjadi tidak cocok untuk ditanyakan pada mahasiswa S1 pendidikan dokter. Sebagai contoh kasus aterosklerosis dengan level kompetensi 1, sebaiknya soal MCQ mengenai aterosklerosis menanyakan diagnosis, penyebab, ataupun pataofisiologinya saja.

Oleh sebab itu bila ingin mengetahui tingkat kemampuan diagnosis mahasiswa, maka dipilih kasus pada level 1-2. Bila ingin mengetahui tingkat kemampuan tata laksana, maka dipilih kasus pada level 3. Bila ingin mengetahui tingkat kemampuan kognitif secara komprehensif, maka dipilih kasus pada level 4A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *