Perencanaan Progress Test

PENDAHULUAN

Definisi

Progress test merupakan suatu rangkaian uji berulang yang menilai kompetensi dari suatu bidang atau profesi. Pada uji ini peserta akan dihadapkan pada soal yang menguji kompetensi, baik yang sudah dipelajari maupun belum. Soal dalam uji ini bersifat komprehensif untuk menilai perkembangan pencapaian kompetensi. Seluruh mahasiswa, meski dari berbagai tingkat semester, diberikan soal yang sama. Pada periode berikutnya, mahasiswa tersebut akan diberikan kembali soal dengan bentuk, jumlah, tingkat kesulitan, dan kompetensi yang sama.

Mahasiswa akan mengikuti ujian ini sebanyak beberapa kali selama berstatus sedang menjalani pendidikan. Jumlah progress test yang diikuti mahasiswa dalam satu tahun akademik dapat berbeda, bergantung institusi, kebijakan, dan tujuannya. Tidak ada acuan baku jumlah uji dalam satu periode. Kebiasaan di luar negeri uji ini dilaksanakan 2 hingga 4 kali setahun. Namun institusi di Indonesia yang sudah melaksanakan uji ini biasanya menyelenggarakan sekali setahun.

Tujuan

Tujuan utama diadakannya progress test adalah untuk menilai perkembangan pencapaian kompetensi mahasiswa, tanpa menghilangkan adanya tujuan yang lain. Tujuan spesifik yang ingin dicapai sangat bergantung pada hasil atau informasi apa yang ingin didapat institusi. Perbedaan tujuan ini akan menyebabkan berbagai perbedaan metode uji, indikator, instrumen, dan hasil/informasi yang didapatkan.

Ranah kompetensi yang menjadi target uji juga bergantung tujuan yang ingin dicapai masing-masing institusi. Awalnya sebagian besar institusi menyelenggarakan progress test untuk menguji kompetensi kognitif. Namun dalam beberapa tahun terakhir progress test telah berkembang juga untuk menguji kompetensi psikomotor. Oleh karena itu tidak dapat dikatakan bahwa progress test hanya untuk menilai perkembangan kognitif.

Manfaat

Informasi yang didapat dari progress test akan sangat kompleks. Setiap analisis data akan menghasilkan fakta tersendiri. Semakin baik perencanaan dan pelaksanaan, maka akan semakin banyak dan kompleks hasil analisis yang didapat, sehingga dapat memetakan perkembangan pencapaian kompetensi dengan lebih baik. Secara umum manfaat yang didapat dari progress test antara lain:

  • Dapat mengukur perkembangan dan efektivitas akuisisi keilmuan.

Melalui progress test kita dapat memperoleh informasi sudah sejauh mana pencapaian masing-masing mahasiswa pada jangka waktu tertentu. Kita dapat memantau kesesuaian pencapaian dengan proses yang sudah dijalani.

  • Dapat memberikan informasi diagnostik dan prognostik terkait penyelenggaraan kegiatan akademik, sehingga institusi dapat mempertimbangkan intervensi yang akan diberikan.

Hasil progress test juga dapat memetakan sumber masalah pendidikan dan memprediksi kemungkinan pencapaian dalam periode selanjutnya. Hasil ini dapat menjadi bahan pertimbangan institusi untuk perbaikan selanjutnya atau perencanaan upaya-upaya preventif.

  • Sebagai upaya penjaminan mutu.

Hasil progress test dapat menjadi salah satu indikator dalam penjaminan mutu pelaksanaan pendidikan. Salah satu informasi penting yang bisa didapat institusi adalah kesesuaian pencapaian mahasiswa dengan tujuan pendidikan, sehingga institusi dapat memantau arah perkembangan dan pencapaian tujuan pendidikan.

  • Dapat memberikan umpan balik untuk dosen dan mahasiswa.

Hasil analisis data dari progress test dapat digunakan sebagai umpan balik, tidak hanya untuk fakultas, namun juga untuk dosen dan mahasiswa. Dosen akan dapat mengetahui sejauh mana akuisisi keilmuan oleh mahasiswa dan mengidentifikasi kelemahan pelaksanaan pendidikan, sehingga dapat merancang strategi untuk memperbaikinya. Dosen juga akan mengetahui efektivitas pengajaran yang dilakukannya. Mahasiswa dapat mengetahui sejauh mana pencapaian yang telah didapatnya dalam suatu periode tertentu.

PERSIAPAN

Progress test adalah kegiatan kolosal karena melibatkan seluruh mahasiswa dan banyak sumber daya manusia. Selain itu, kegiatan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Persiapan yang baik akan menentukan hasil yang baik pula, sehingga dapat memberikan informasi yang diharapkan.

Tetapkan Tujuan

Langkah pertama dalam persiapan progress test adalah penetapan tujuan. Langkah ini adalah langkah yang paling penting dan harus dipikirkan bila berencana untuk mengadakannya. Tujuan ini menjadi penting karena akan berdampak pada desain, teknis pelaksanaan, dan hasil progress test. Dalam menetapkan tujuan, institusi berhak menentukan tujuannya sendiri dan tidak ada aturan baku mengenai tujuan tersebut.

Tujuan yang ditetapkan bersama oleh pimpinan fakultas, penanggung jawab kegiatan progress test, dan pihak lain yang dianggap penting. Tujuan yang ditetapkan harus spesifik dan informasi yang ingin didapatkan harus jelas (ingin mengevaluasi apa). Beberapa hal yang perlu didiskusi dalam menetapkan tujuan progress test antara lain:

  • Acuan pencapaian: kurikulum atau Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI).
  • Aspek uji: kognitif atau psikomotor.
  • Sifat uji: formatif atau sumatif.
  • Bentuk uji: pilihan berganda, esai, keterampilan.
  • Sarana uji: komputer atau tulis.
  • Peserta: seluruh mahasiswa atau tahap akademik saja atau tahap profesi saja.
  • Jumlah uji: berapa kali dalam suatu periode.
  • Waktu pelaksanaan: akhir semester atau akhir tahun akademik.
  • Aturan pelaksanaan: diwajibkan atau dibebaskan.

Sumber Daya

Bila tujuan telah ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah persiapan sumber daya. Ada tiga komponen sumber daya yang harus dipersiapkan yaitu pelaksana, sumber pembiayaan, dan sarana yang dibutuhkan.

Tenaga Pelaksana

Tenaga pelaksana adalah sumber daya yang paling penting dan paling menentukan. Tenaga pelaksana adalah orang yang tidak hanya merancang, namun juga mempersiapkan dan memastikan pelaksanaan progress test sesuai dengan rencana. Penyelenggaraan progress test dapat mengalami kegagalan bila tenaga pelaksana kurang jelas. Mengingat progress test adalah kegiatan besar, maka diperlukan tenaga pelaksana yang benar-benar memiliki komitmen tinggi dan kesungguhan dalam bekerja guna memastikan progress test dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Biaya

Progress test adalah kegiatan yang membutuhkan dana yang besar dan dilaksanakan secara berkala. Oleh sebab itu, komitmen pimpinan fakultas sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan kegiatan, bukan hanya sekali. Pihak pimpinan fakultas harus memastikan sumber pembiayaan yang jelas agar tidak berhenti di tengah jalan.

Sarana

Kegiatan ini sangat membutuhkan sarana yang baik dan efektif. Ujian berbasis kertas akan memudahkan pelaksanaan karena dapat diselenggarakan secara serentak, sehingga dapat menjamin minimnya kebocoran soal. Ujian berbasis komputer akan memudahkan pemeriksaan dan dapat menekan biaya cetak, serta mudah dalam analisis hasil ujian. Kedua metode memiliki kelebihan dan kekurangan, namun kekurangan tersebut tetap dapat ditangani.

Konstruksi Tes

Bila fakultas telah memiliki komitmen pelaksanaan progress test yang jelas, baik tujuan maupun sumber daya, maka uji tersebut sudah dapat dirancang oleh tim. Tahapan yang dilakukan dalam konstruksi progress test adalah item authoring, blue print, format soal, item development, item review, standard setting, dan item analysis.

Item authoring

Langkah ini adalah persiapan pembuat soal. Soal yang digunakan dalam progress test adalah soal yang mengacu pada standar tertentu, sehingga perlu dipikirkan siapa yang akan membuat soal. Pembuat soal adalah pakar di bidang masing-masing dan telah mendapatkan pelatihan penyusunan soal yang baik. Soal yang dibuat hendaknya mengikuti aturan soal yang baik, sehingga dapat menggambarkan hasil yang diharapkan.

Blue print

Setelah menetapkan pembuat soal, langkah selanjutnya adalah penyusunan blue print. Blue print berfungsi untuk memetakan klasifikasi soal berdasarkan kriteria tertentu. Blue print hendaknya mengacu pada standar tertentu, biasanya yang berlaku di tempat tertentu. Oleh karena di Indonesia standar yang berlaku untuk lulusan fakultas kedokteran adalah SKDI, maka blue print yang dibuat hendaknya mengacu pada SKDI. Kurikulum sebaiknya tidak digunakan, meski kurikulum yang digunakan merupakan turunan dari SKDI, karena kurikulum juga memuat konten lokal. Namun bila progress test juga bertujuan untuk mengevaluasi pencapaian terhadap kurikulum, maka penggunaan kurikulum sebagai acuan boleh-boleh saja.

Blue print disajikan dalam bentuk tabel dengan kriteria tertentu pada kolom (misal sistem organ atau komponen kompetensi) dan pada baris (misal kelompok keilmuan). Setiap sel yang dibentuk oleh baris dan kolom diisikan jumlah soal. Distribusi jumlah soal disesuaikan dengan tujuan progress test dan memperhatikan pertimbangan seluruh anggota tim perancang.

Format soal

Format soal dalam progress test dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan informasi yang diharapkan. Sebagian besar institusi memilih menggunakan format MCQ karena lebih mudah memeriksa dan informasi yang diinginkan lebih mudah didapatkan. Tipe MCQ yang digunakan dapat berupa True-False atau one best answer. Format yang dipilih hendaknya ditetapkan bersama dan menyesuaikan dengan kondisi institusi. Tidak ada format terbaik, semua dikembalikan ke tujuan diadakannya progress test.

Item development

Bila format soal telah ditetapkan, pembuat soal dapat menyusun soal mengikuti format yang disepakati. Soal disusun berdasarkan blue print dengan jumlah dan kriteria yang telah disepakati tim. Butir soal yang disusun hendaknya memperhatikan validitas konstruk, sehingga hasil yang didapat bisa menggambarkan kondisi sebenarnya.

Item review

Setelah seluruh soal dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah review soal. Soal tersebut diperiksa bersama, apakah soal tersebut sesuai dengan acuan yang digunakan, apakah soal tersebut dapat menggambarkan kemampuan mahasiswa yang diharapkan. Soal yang telah di-review akan dimasukkan ke dalam item pool untuk selanjutnya dipilih yang akan dikeluarkan saat progress test.

Standard setting

Metode standard setting ditetapkan sebelum diselenggarakannya ujian. Standard setting berfungsi untuk menentukan batas lulus. Batas lulus perlu ditetapkan sebagai salah satu indikator pencapaian progress test. Institusi bebas menentukan metode yang akan dipilih, apakah penilaian acuan norma (PAN) atau penilaian acuan patokan (PAP). Penetapan PAN berdasarkan nilai seluruh peserta ujian. Penetapan ini berisiko batas lulus menjadi lebih rendah atau lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan standar. Penetapan PAP berdasarkan kriteria dan batasan tertentu. Dalam progress test penetapan PAP lebih baik digunakan karena peserta ujian yang lebih rendah tingkatnya masih belum mempelajari topik di tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, jumlah mereka cenderung lebih banyak, sehingga penetapan PAN dapat mengakibatkan rendahnya batas lulus dan tidak dapat menggambarkan keadaan sebenarnya.

Item analysis

Soal yang telah diujikan selanjutnya dilakukan item analysis untuk menilai indeks kesukaran, indeks diskriminasi, dan reliabilitas soal. Hasil analisis ini dapat dibandingkan dengan validitas soal untuk menilai mutu dan pencapaian mahasiswa. Soal yang memiliki kualitas baik selanjutnya dimasukkan ke dalam bank soal.

REFERENSI

  • Heeneman, S., Schut, S., Donkers, J., van der Vleuten, C., & Muijtjens, A. (2017). Embedding of the progress test in an assessment program designed according to the principles of programmatic assessment. Medical Teacher, 39(1), 44–52.
  • Norman, G., Neville, A., Blake, J. M., & Mueller, B. (2010). Assessment steers learning down the right road: Impact of progress testing on licensing examination performance. Medical Teacher, 32(6), 496–499.
  • Plessas, A. (2015). Validity of progress testing in healthcare education. International Journal of Humanities Social Sciences and Education, 2(8), 23–33.
  • Tio, R. A., Schutte, B., Meiboom, A. A., Greidanus, J., Dubois, E. A., & Bremers, A. J. A. (2016). The progress test of medicine: the Dutch experience. Perspectives on Medical Education, 5(1), 51–55.
  • van der Vleuten, C. P. M., & Verwijnen, G. M. (1996). Fifteen years of experience with progress testing in a problem-based learning curriculum. Medical Teacher, 18(2), 103.
  • Verhoven, B., Verwijnen, G., Scherpbier, A., Holdrinet, R., Oeseburg, B., Bulte, J., & van der Vleuten, C. (1998). An analysis of progress test results of PLB and non-PLB students.pdf. Medical Teacher, 20(4), 310–316.
  • Wrigley, W., Van Der Vleuten, C. P., Freeman, A., & Muijtjens, A. (2012). A systemic framework for the progress test: Strengths, constraints and issues: AMEE Guide No. 71. Medical Teacher, 34(9), 683–697.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *