Belajar dan Kendalanya

Definisi Belajar

Belajar merupakan suatu proses alamiah yang dilakukan oleh manusia karena diciptakan Tuhan dengan dibekali akal dan pikiran. Secara alami manusia akan belajar bila dihadapkan pada suatu stimulus. Stimulus dapat berupa masalah ataupun dorongan kebutuhan. Seorang anak kecil akan berusaha secara alami belajar berjalan karena melihat orang di sekitarnya berjalan. Seseorang dengan kesulitan ekonomi akan berusaha mencari jalan keluar untuk memperbaiki kehidupannya.

Sejak dilahirkan manusia telah dibekali kemampuan untuk belajar, sama juga seperti makhluk lain yang diciptakan Tuhan. Namun manusia dibekali kemampuan berpikir yang lebih, sehingga dapat mempertimbangkan dan menilai sesuatu dengan lebih baik. Kemampuan ini terus terasah secara alami karena adanya stimulus yang dihadapi manusia setiap saat. Selama stimulus tersebut dianggap berarti oleh manusia, selama itu pula manusia akan belajar dan merespon stimulus tersebut.

Rita Smilkstein membagi pembelajaran menjadi enam tahap yaitu motivasi, pembelajaran awal, pembelajaran lanjutan, mahir, perbaikan, dan penguasaan. Tahapan tersebut tidak berbatas tegas. Kita dapat mengetahui adanya kelanjutan tahap berdasarkan perubahan kemahiran yang signifikan dan keluwesan dalam melakukannya.

Pada tahap 1 terjadi respon terhadap stimulus. Bila stimulus dianggap penting, maka kita akan memberikan respon untuk mempelajarinya. Bila stimulus tersebut dianggap sebaliknya, maka kita akan melupakannya dan tidak memberikan respon apapun. Upaya terhadap pembelajaran sangat bergantung seberapa besar motivasi dalam merespon stimulus. Semakin besar motivasi, maka akan semakin besar pula respon yang diberikan.

Pada tahap 2 manusia akan mulai mencoba belajar dengan cara melakukan semacam percobaan dan melakukan kesalahan (trial error). Pada tahap ini manusia akan berulang kali mencoba dan belajar dari kesalahan sendiri ataupun orang lain. Tahap ini menjadi penting dalam menentukan kelanjutan pembelajaran karena biasanya tiap kesalahan yang dilakukan akan berpengaruh pada motivasi untuk mengulang kembali.

Pengulangan trial error yang dilakukan terus menerus akan menjadikan kita memiliki kemampuan lebih baik dari sebelumnya dan masuk ke tahap 3. Pada tahap ini kita menjadi terbiasa melakukannya dan tampak terlatih. Trial error yang terjadi lebih banyak dari sebelumnya. Kesalahan setiap melakukan sesuatu akan menjadi masukan untuk selanjutnya. Kita dapat merasakan dan menilai sendiri kemahiran yang telah dimiliki ketika kita mulai merasakan nyaman kemahiran tersebut dan mulai menemukan cara sendiri dalam melakukannya.

Kemahiran yang telah dimiliki akan tampak terjadi secara alami pada tahap 4. Rasa percaya diri, kreativitas, dan merasakan perbedaan dengan yang pernah dipelajari terjadi pada tahap ini. Pada tahap ini kita dapat melakukan cara/model sendiri secara mandiri dan spontan.

Tahap 5 dari proses belajar adalah tahap perbaikan. Pada tahap ini kita dapat melakukannya dengan sangat baik, sangat menikmati, mencoba metode baru, dan  sangat memahami mengapa melakukan hal tersebut. Pada tahap ini juga terjadi internalisasi dan mampu melihat hubungan dengan hal lain, sehingga biasanya kita mulai senang mengajarkannya pada orang lain.

Tahap terakhir dari pembelajaran adalah penguasaan. Pada tahap 6 ini kita akan berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan yang telah dimiliki. Pada tahap ini juga kita mulai mempelajari kemahiran baru berdasarkan kemahiran sebelumnya serta menyadari keterbatasan yang dimiliki.

Tahapan pembelajaran tersebut terjadi secara alami dan akan terus bergerak ke tahap berikutnya bila manusia berusaha, mengulang-ulang, dan memperbaiki kesalahan. Suatu proses pembelajaran saling berhubungan dengan proses pembelajaran yang lain, sehingga sebenarnya manusia tetap belajar sepanjang hayatnya. Namun yang menjadi perbedaan adalah tujuan dan sasaran pembelajarannya.

Proses Fisiologis Belajar

Para ahli menyimpulkan bahwa secara biologis proses belajar adalah proses penyimpanan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Memori adalah kemampuan otak manusia dalam menerima, merespon, memproses, dan menyimpan informasi. Memori dapat dibagi menjadi tiga yaitu memori jangka pendek (short-term memory), memori kerja (working memory), dan memori jangka panjang (long-term memory).

Memori jangka pendek bekerja lebih banyak sebagai penerima dan penyaring informasi, baik berupa kemampuan, kejadian, maupun emosi pada suatu kejadian. Memori jangka pendek menyimpan informasi hanya beberapa detik hingga beberapa menit. Memori kerja bertugas mengolah informasi yang diterima dari memori jangka pendek, memutuskan apakah akan disimpan dalam memori jangka panjang atau tidak, serta menarik informasi dari memori jangka panjang dan mengaitkannya dengan informasi lain. Memori jangka panjang berperan sebagai tempat penyimpanan seluruh informasi yang diterima.

Proses belajar adalah proses penyimpanan informasi ke dalam memori jangka panjang. Secara konvensional proses ini terjadi akibat pengulangan stimulus informasi, sehingga memori jangka pendek akan menganggapnya penting, lalu diproses oleh memori kerja, dan akhirnya disimpan dalam memori jangka panjang. Informasi yang disimpan dalam memori jangka panjang berupa kode-kode. Bila kita mengingat kembali suatu hal, maka kode-kode tersebut akan disusun kembali menjadi informasi yang kita butuhkan.

Sel saraf di otak merupakan sel yang berperan dalam proses belajar. Penelitian menunjukkan adanya perubahan struktur sel saraf akibat belajar. Proses belajar menyebabkan terjadinya penebalan mielin pada sel saraf dan pembentukan hubungan baru antar sel saraf. Semakin tebal mielin, maka akan membuat kapasitas penyimpanan di otak semakin besar. Hubungan yang banyak antar sel akan memudahkan pemanggilan kembali kode-kode informasi yang disimpan dalam memori jangka panjang, serta memudahkan dalam mengaitkan informasi yang satu dengan lainnya. Ini semua sangat membantu manusia dalam berpikir dan belajar hal baru.

Ranah Pembelajaran

Proses pembelajaran adalah sebuah proses perubahan perilaku. Indikator dari keberhasilan pembelajaran adalah perubahan perilaku itu sendiri. Bila ada yang mengaku telah belajar, namun kita tidak melihat adanya perubahan, maka kegiatan tersebut belum dapat dikatakan sebagai belajar. Mungkin dia hanya baru mencoba melakukan atau melakukannya tanpa motivasi, sehingga dia tidak pernah mengulangnya dengan perbaikan, tahapan-tahapan pembelajaran tidak terjadi, dan tidak ada perubahan perilaku yang dapat dinilai.

Oleh karena pembelajaran merupakan perubahan perilaku, maka ranah pembelajaran dapat dikategorikan juga berdasarkan ranah perilaku, yaitu kognitif, psikomotor, dan afektif. Ranah kognitif mencakup perilaku yang berkaitan dengan kemampuan berpikir, seperti mengetahui, memahami, menganalisis, mengevaluasi, menyusun, dan sebagainya. Ranah psikomotor mencakup perilaku yang berkaitan dengan kemampuan motorik, seperti keterampilan tangan, kaki, koordinasi beberapa bagian tubuh, dan sebagainya. Ranah afektif mencakup perilaku yang berkaitan dengan kemampuan merasa, berempati, bekerja sama, dan sebagainya.

Suatu hal yang dipelajari dapat mencakup pada salah satu ranah pembelajaran atau lebih, bergantung tingkat kompleksitas kemampuan. Kemampuan membaca buku teks dan membuat resume dari bacaan adalah kemampuan pada ranah kognitif. Kemampuan mendiagnosis penyakit pasien merupakan kemampuan kompleks yang membutuhkan kemampuan yang baik dari seluruh ranah pembelajaran.

Faktor yang Memengaruhi Belajar

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi belajar. Faktor tersebut dapat memengaruhi dari aspek kualitas maupun kuantitas belajar. Pengaruh faktor tersebut dapat saling terkait dan akan memberikan dampak berbeda pada setiap orang bergantung pada intensitas faktor dan cara seseorang dalam menyikapi faktor. Secara umum dapat menjadi faktor internal dan faktor eksternal.

  1. Faktor internal

Faktor internal adalah faktor yang paling menentukan dalam proses belajar. Faktor ini merupakan bekal diri dalam belajar. Baiknya kualitas faktor internal akan meningkatkan kualitas hasil belajar. Adapun faktor internal yang berpangaruh antara lain perhatian, memori, emosi, kemampuan mengorganisasi informasi, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan berbahasa.

  • Perhatian adalah langkah pertama dalam setiap pembelajaran. Orang yang termotivasi untuk belajar akan memberikan perhatian yang lebih besar daripada orang yang kurang termotivasi. Suatu hal yang kurang menarik akan membuat perhatian kita lebih mudah teralihkan.
  • Seperti telah dibahas sebelumnya, memori memiliki peran besar dalam proses belajar. Memori manusia diperkirakan sekitar 1 juta GB. Anugerah ini seharusnya membuat kita lebih banyak bersyukur dengan cara menggunakannya sebaik mungkin, misalnya untuk belajar. Memori yang sebesar itu sangat disayangkan bila tidak banyak digunakan untuk hal positif dan bermanfaat. Berbekal memori yang sangat besar, kita dapat belajar banyak hal tanpa terpengaruh usia. Penelitian mengenai memori ini masih terus berlanjut dan masih banyak teka teki yang belum terpecahkan.
  • Emosi yang dilibatkan saat belajar sangat berpengaruh terhadap proses belajar. Selain melalui mekanisme konvensional, penyimpanan informasi ke memori jangka panjang juga dapat dipercepat dengan melibatkan emosi. Sebagai contoh, kita mungkin masih ingat salah satu pelajaran yang diajarkan guru SD kelas 1, mungkin dengan jembatan keledai, terkadang dengan lagu. Pelibatan emosi seperti itu akan sangat memudahkan penyimpanan informasi ke memori jangka panjang, bahkan dapat bersifat lebih awet. Contoh lain adalah momen-momen spesial tempo dulu yang masih kita ingat hingga saat ini, mungkin momen indah bersama keluarga, ataupun kejadian menyedihkan. Kuatnya ingatan kita mengenai hal tersebut karena pada saat momen tersebut terjadi ada emosi yang kita libatkan.
  • Informasi yang diterima bukan berupa informasi tunggal. Informasi yang masuk datang selalu bersamaan, namun proses pengolahan informasi bergantung individu. Ada dua bentuk pengolahan informasi yaitu simultan (spasial) dan suksesif (sekuensial). Pengolahan informasi secara simultan terjadi pengolahan beberapa informasi sekaligus. Pengolahan secara suksesif dilakukan dengan mengurutkan terlebih dahulu. Kedua bentuk pengolahan informasi diperlukan bergantung situasi dan kebutuhan. Ketidaktepatan metode pengolahan informasi dengan situasi akan menimbulkan masalah dalam belajar.
  • Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan kognitif tertinggi. Kemampuan ini dapat dilatih dengan cara menggali kebenaran informasi dan mencari jawaban dengan pemikiran logis. Kemampuan ini sangat diperlukan dalam memilah informasi yang dapat digunakan dalam belajar.
  • Kemampuan berbahasa memiliki peran dalam memahami dan mengolah informasi yang diterima. Kemampuan berbahasa meliputi kemampuan bicara, menyimak, membaca, dan menulis. Perbedaan bahasa dan perbedaan tingkat kemampuan berbahasa memberikan kesempatan kepada kita untuk berusaha lebih daripada biasanya.
  1. Faktor eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor ini dapat berupa lingkungan belajar, pengajar, keluarga, dan fasilitas. Secara umum faktor eksternal ini memiliki pengaruh lebih kecil daripada faktor internal, meski pada beberapa kasus dapat dijumpai sebaliknya. Peran faktor eksternal ini akan sangat berarti pada proses belajar bila dapat mempertahankan motivasi tetap dalam keadaan tinggi.

Lingkungan belajar yang asri dan rekan-rekan yang memiliki motivasi tinggi dalam belajar akan membantu motivasi belajar tetap dalam keadaan tinggi. Pengajar yang tulus dan bersemangat mengajar akan membuat kita merasa sangat terbantu dalam belajar. Keluarga yang mendukung cita-cita dan usaha kita akan memantapkan langkah kita untuk belajar sungguh-sungguh. Meski berfungsi mendukung pembelajaran, fasilitas yang baik dan lengkap terkadang membuat kita tidak mau berpikir mencari cara lain.

Level Kemampuan

Tingkat kemampuan manusia dapat dikelompokkan menjadi empat tingkat yaitu unconscious incompetence, conscious incomeptence, conscious competence, unconscious competence. Pada tahap pertama manusia tidak menyadari belum memiliki kemampuan. Pada tahap kedua manusia mulai menyadari tidak memiliki kemampuan. Pada tahap ketiga manusia menyadari telah memiliki kemampuan. Pada tahap keempat manusia tidak menyadari telah memiliki kemampuan.

Proses belajar mulai terjadi ketika manusia berada pada tahap kedua. Bila manusia belum menyadari bahwa ia tidak memiiki kemampuan, maka ia tidak memiliki inisiatif untuk memberikan respon terhadap informasi yang datang. Akibatnya ia tidak memiliki perhatian terhadap informasi tersebut dan proses belajar tidak akan pernah terjadi. Individu yang telah belajar dan terbiasa melakukan suatu kemahiran, apalagi sudah pada tahap 6 pembelajaran, akan terjadi otomatisasi, sehingga dalam melakukan sesuatu sudah tidak menyadarinya lagi.

Kendala Belajar

Suatu proses pembelajaran dapat mengalami kendala kapan saja. Faktor yang memengaruhi pembelajaran memiliki peran terjadinya kendala belajar. Dapat dikatakan bahwa kendala belajar merupakan gangguan yang terjadi pada faktor yang memengaruhi belajar, baik internal maupun eksternal. Kendala yang paling perlu diperhatikan adalah kendala pada faktor internal. Kendala pada faktor internal dapat menghambat seluruh proses belajar karena sejatinya pembelajaran itu terjadi secara individual.

Kendala pada faktor internal dapat diatasi dengan mengubah cara berpikir dan membangun motivasi diri. Cara berpikir yang tidak tepat mengenai proses belajar akan membuat orang tidak merasakan perlunya belajar, sehingga tetap berada dalam level unconscious incompetence. Motivasi diri yang tinggi akan membuat orang selalu berupaya mencari jalan keluar, ide kreatif, dan memperbaiki kesalahan, sehingga hasil pembelajaran akan selalu berkembang.

Faktor eksternal terkadang juga dapat memberikan pengaruh dan menjadi kendala belajar yang luar biasa. Biasanya faktor eksternal memberikan pengaruh yang bersifat sugestif terhadap motivasi, baik positif maupun negatif. Adanya kendala pada faktor eksternal memang dapat mengurangi motivasi belajar, namun dengan mengubah cara berpikir dapat pula menjadi bahan bakar semangat untuk belajar. Lingkungan belajar yang nyaman dan fasilitas yang baik dapat membuat kita bertahan lebih lama ketika belajar. Namun para pendahulu kita yang bersemangat dan berbeda cara berpikir, dapat belajar di mana saja, bahkan tanpa fasilitas, terkadang di bawah pohon, garasi, bahkan di penjara.

Kendala yang paling sering dari keluarga adalah kurangnya dukungan morel ataupun materiel, terutama dari orang tua. Sebagian orang tua memaksakan anaknya untuk mengambil jurusan tertentu, meski cara yang digunakan tidak eksplisit, misalnya dengan mengimingi sesuatu. Anak yang memilih jurusan tidak sesuai dengan keinginannya akan sulit belajar karena kurangnya motivasi terhadap jurusan tersebut, sehingga perhatian yang diberikan tidak optimal. Oleh sebab itu diperlukan pembicaraan terbuka dari hati ke hati antara orang tua dengan anak sebelum memilih jurusan. Keputusan yang diambil hendaknya tetap memperhatikan kepentingan anak karena ia yang akan menjalaninya.

Selain itu, faktor pengajar juga memiliki pengaruh yang besar. Pengajar yang baik saja tidak cukup, mesti inspiratif. Pengajar yang baik akan menjadi memberikan rasa nyaman ketika belajar. Pengajar yang inspiratif adalah akan menjadi penyemangat dan akan selalu diingat muridnya. Sebaliknya, pengajar yang kurang memiliki kepedulian, kurang memperhatikan, dapat menyebabkan kejenuhan dalam belajar. Saat ini sudah cukup banyak institusi yang mengevaluasi pengajarnya, sehingga sudah ada mekanisme yang jelas untuk pelaporan kinerja pengajar.

Kendala-kendala pada faktor eksternal memang dapat mengganggu pembelajaran, bahkan menghentikan. Besarnya pengaruh kendala eksternal bergantung cara pandang kita melihat besarnya masalah. Kendala tersebut dapat diatasi dengan mengubah pola pikir kita, kembali fokus pada tujuan belajar, meningkatkan potensi faktor internal, dan mengurangi ketergantungan dengan faktor eksternal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *